Rabu, 10 Maret 2010

Rumah Tahanan Negara Kelas II.B Bangil

Rumah Tahanan Negara Kelas II.B Bangil

BAB  I
GAMBARAN KEADAAN

A. MASALAH KEMANAN DAN KETERTIBAN.
     Keamanan dan ketertiban merukapan syarat mutlak untuk terlaksananya kegiatan pembinaan, suasana aman dan tertib perlu diwujutkan. Itu tergantung dari system yang berlaku. Menurut UU No. 12 Tahun 1995 sistem pemasyarakatan adalah “ Suatu tatanan mengenai batas serta cara pembinaan warga binaan pemasyarakatan berdasarkan Pancasila yang dilaksanakan secara terpadu antara Pembina yang dibina dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas warga binaan “.
     Petugas pemasyarakatan perlu memahami tugas pokok keamanan dan ketertiban. Menurut buku pola pembinaan narapidana / tahanan, tugas pokok bagi petugas pengamanan adalah :
1.      Keamanan dan ketertiban memantau dan mencegah sedini mungkin gangguan keamanan baik dari dalam maupun luar Rutan  atau Lapas.
2.      Keamanan dan ketertiban mencegah agar situasi kehidupan penghuni tidak mencekam agar tidak terjadi penindasan dan lain-lain.
3.      Memelihara, mengawasi dan menjaga agar suasana kehidupan penghuni baik dalam bekerja, belajar, beribadah dan menerima kunjungan selalu tertib dan harmonis.
     Oleh karena itu petugas perlu memiliki tanggung jawab bersama, bukan hanya petugas pengamanan saja, akan tetapi secara bersama mampu menjaga dan memelihara kondisi Rutan atau Lapas yang aman dan tertib.
      Beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi keamanan dan ketertiban antara lain :
1.      Warga binaan pemasyarakatan.
Faktor binaan pemasyarakatan salah satu unsur penting dalam mewujutkan situasi keamanan dan ketertiban yang aman dan tertib. Jumlah penghuni yang over kapasitas akan mempengaruhi terjadinya gangguan keamanan, selain itu variasi penghuni antara kasus criminal dan kasus narkoba dalam penempatan kamar hunian harus dipisahkan.
2.      Petugas pemasyarakatan.
Sumber daya petugas pemasyarakatan masih relatif minim, dan dari petugas tersebut harus bisa mempunyai peranan yang mencakup : mampu menjembatani kepentingan atau kebutuhan warga binaan pemasyarakatan dalam arti yang positif, mampu menggali bakat dan minat untuk dikembangkan dan mampu mengendalikan perilaku yang kurang baik menjadi baik dengan demikian peranan petugas cukup dominant selain sebagai Pembina dan juga sebagai pengamanan. Sehingga keadaan Rutan atau Lapas dapat mewujudkan kondisi keadaan yang aman, tertib dan terkendali.


3.      Keluarga ( Masyarakat ).
Salah satu faktor yang mempengaruhi psikologi warga binaan pemasyarakatan yaitu kurangnya hubungan yang baik antara narapidana dengan keluarganya atau masyarakat, dimana keluarga warga binaan pemasyarakatan tidak peduli lagi jika salah satu anggota keluarganya ada di Rutan atau Lapas ( jarang dikunjungi ). Begitu juga hubungan dengan masyarakat luar, kadang kala keluarga korban masih ada perasaan dendam sehingga warga binaan pemasyarakatan mau kembali kekeluarganya masih ragu dan takut dan sebagainya.

A.     Masalah Keberhasilan Pembinaan.
                    Keberhasilan program pembinaan terletak pada pola yang dipakai selama ini, menurut ketentuan pasal 5 UU No. 12 tahun 1995 pembinaan narapidana, yaitu menganut asas :
1.      Asas Pengayoman
2.      Asas Persamaan Perlakuan dan Pelayanan
3.      Asas Pendidikan
4.      Asas Pembimbingan
5.      Asas Penghormatan, Harkat dan Martabat Manusia
6.      Asas Kehilangan Kemerdekaan merupakan satu-satunya penderitaan
7.      Asas Terjaminnya Hak untuk tetap berhubungan dengan keluarga dan orang- orang tertentu.

Disamping asas pembinaan tersebut, proses pembinaan memerlukan tahapan- tahapan sebagai berikut :
1.      Tahap Awal meliputi : masa pengamat, pengenalan dan penelitian lingkungan yang dilaksanakan paling lama satu bulan.
2.      Tahap lanjutan meliputi : perencanaan program pembinaan lanjutan, pelaksanaan program pembinaan lanjutan, penelitian pelaksanaan dan pelaksanaan program asimilasi.
3.      Tahap akhir meliputi : perencanaan pintegrasi, pelaksanaan program integrasi dan pengakhiran pembinaan tahap akhir.
Berikut factor yang mmpengaruhi pelaksanaan pembinaan dalam kondisi yang aman dan tertib dapat terwujud apabila :
1.      Pola dan tata letak bangunan.
Pola dan tata letak bangunan merupakan faktor yang utama atau penting  karena keberhasilan suatu pembinaan terhadap narapidana tanpa didukung adanya bangunan atau tempat yang memadai tidak akan berhasil.
2.      Struktur Organisasi.
Mekanisme kerja khususnya hubungan dan jalur-jalur perintah atau komando dan staf hendaknya mampu dilaksanakan secara budaya guna agar pelaksanaan tugas disetiap unit kerja berjalan baik dan lancer.
3.      Kepemimpinan Kepala UPT.
Kepala Unit Pelaksana Teknis ( Karutan / Kalapas ) akan menjadi faktor pendukung apabila kepemimpinannya mampu mendorong motifasi kerja, disiplin, tanggung jawab untuk bekerja sama sehingga ada gairah dalam bekerja.
4.      Kualitas dan kuantitas petugas.
Jumlah petugas dan mutu petugas hendaknya dapat teratasi, sebab dengan adanya kualitas dan kuantitas petugas akan terwujud dalam membina dan mendidik narapidana.
5.      Manajemen.
Hal ini berkaitan dengan mutu kepemimpinan, struktur organisasi, kemampuan pengelolaan administrasi.
6.      Kesejahteraan petugas.
Faktor kesejahteraan petugas pemasyarakatan masih relatif rendah, dalam hal ini tidak mengurangi lemahnya pembinaan serta keamanan dan ketertiban dilingkungan Rumah Tahanan Negara atau di Lembaga Pemasyarakatan.
7.      Sarana atau fasilitas pembinaan.
Kurangnya sarana dan prasarana atau fasilitas dapat menjadi penghambat, maka perlu dioptimalkan pendaya gunaan fasilitas saran dan prasarana tersebut.
8.      Anggaran atau Dana.
Hendaknya memanfaatkan anggaran yang tersedia secara efektif dan efesien.


BAB  II
ANALISIS DAN PEMECAHAN MASALAH

A. Analisis Masalah.
                    Melihat dan mengamati kondisi keamanan dan ketertiban yang ada saat ini, telah penulis uraikan pada bab I, disamping itu masih banyak masalah lain yang dapat menggangu keamanan  dan ketertiban didalam Rutan atau Lapas antara lain :
1.      Pencurian, pemerasan dan pengancaman.
2.      Perkelahian antar penghuni
3.      Pemberontakan dan perlawanan terhadap petugas
4.      Kebakaran dll.
Masalah tersebut dapat ditekan atau diantisipasi dengan kerja sama, baik antar sesama penghuni warga binaan, antar petugas pemasyarakatan dengan penghuni dan bahkan antar sesama pegawai petugas pemasyarakatan.
              Sedangkan masalah pokok yang berkaitan dengan peranan keamanan dan ketertiban dalam menunjang keberhasilan pembinaan narapidana yang selama ini masih dianggap kurang diperhatikan dan perlu adanya penyelesaian antara lain :
1.      Masalah koordinasi yang kurang baik.
Masalah ini mudah diucapkan tetapi agak susah dilaksanakan, dimana antara petugas penjagaan dengan  pembinaan warga binaan dalam melaksanakan suatu kegiatan kurang koordinasi sehingga hasil pembinaan yang diharapkan kurang maksimal.
2.      Sumber daya yang relatif rendah.
Masalah sumber daya manusia tidak asing lagi karena petugas pemasyarakatan dalam realitanya kurang mampu menggerakan,mengawasi dan melaksanakan pembinaan warga binaan dengan baik, oleh karena itu sumber daya petugas pemasyarakatan perlu ditingkatkan melalui diklat dan seminar.
3.      Pendanaan dan sarana yang relative minim.
Untuk berlangsungnya suatu pembinaan dan pengamanan diperlukan dana dan sarana yang cukup memadai. Dana yang digunakan untuk kelancaran kegiatan pembinaan tetapi dalam realitanya masih menjadi kendala utama, begitu juga sarana penunjang masih belum ada, kalaupun ada masih belum dimanfaatkan dengan maksimal.

Masalah-masalah tersebut diatas merupakan masalah pokok yang perlu dicarikan alternatif pemecahan masalahnya. Masalah ini berlangsung sudah cukup lama dan sampai sekarang belum ada penyelesaiannya dengan serius.





B.     Alternatif Pemecahan Masalah.
                    Dari masalah-masalah yang pokok tersebut diatas maka penulis
      menyampaikan alternatif pemecahan masalahnya adalah sebagai berikut :
1.     Masalah koordinasi yang kurang baik, alternatif pemecahannya adalah :
a.      Tanggung jawab keamanan dan ketertiban berada ditangan Karutan atau Kalapas, sehingga perlu ada satu komando yang jelas dan tegas jangan sampai ada kesan memihak –mihak dan berat sebelah
b.      Menumbuhkan kesadaran petugas pemasyarakatan dengan memberikan buku-buku panduan  PPLP dan Protap bagi seluruh petugas.
c.      Mengadakan rapat dinas secara berkala atau brifing dengan seluruh pegawai petugas pemasyarakatan.

2.     Masalah sumber daya manusia, alternatif pemecahannya adalah :
a.      Seluruh petugas pemasyarakatan perlu diikut sertakan dalam pendidikan dan pelatihan atau diklat yang sesuai dengan bidang tugasnya.
b.      Memberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan atau kuliah diperguruan tinggi bagi petugas pemasyarakatan yang mau dan mampu.
3.     Masalah pendanaan dan sarana, alternatif pemecahannya adalah :
a.      Mencarikan donatur dari pihak ketiga atau bekerja sama dengan pihak luar / perusahaan untuk memberikan ketrampilan dan menggunakan / membutuhkan tenaga warga binaan untuk bekerja dengan melalui perjanjian yang jelas.
b.      Membuka usaha dengan modal dari pihak kepedulian pegawai sendiri.
c.      Menjalin kerja sama dengan pihak terkait untuk memberikan pelatihan ketrampilan seperti dengan kantor Disnaker atau Balai Latihan Kerja dll
Demikian analisis dan pemecahan masalah dan semua itu tidak terlepas dari kebijakan pimpinan Karutan atau Kalapas yang berpengaruh dalam mewujudkan keamanan, ketertiban dan pelaksanaan pembinaan yang berhasil guna serta didukung oleh seluruh petugas pemasyarakatan.

           










BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A.  Kesimpulan.
                 Sebagai kesimpulan karya tulis ini maka penulis  akan menguraikan  
      sebagai berikut :
1.      Pada dasarnya situasi keamanan dan ketertiban yang aman dan terkendali akan berpengaruh pada proses pembinaan warga binaan dalam Rutan atau lapas dan tujuan pembinaan akan tercapai dengan maksimal.
2.      Banyak faktor yang mempengaruhi kondisi keamanan dan ketertiban di Rutan atau lapas dapat stabil antara lain :
a.      Kerja sama yang baik antara petugas pemasyarakatan dan penghuni warga binaan (pendekatan persuasif ).
b.       Adanya kegiatan program yang bersinambungan.
c.Adanya dana, sarana dan prasarana yang ,emadai.
d.      Adanya kerja sama dengan pihak luar atau instansi yang terjalin dengan baik.
e.      Sumber daya manusia yang memiliki professional, integritas moral yang tinggi.
3.      Pada dasarnya peranan keamanan dan ketertiban dalam menunjang keberhasilan pembinaan adalah dapat  mendukung kelancaran suatu kegiatan sehingga pembinaan berhasil dengan baik.
4.      Kebijakan pimpinan ( Karutan atau kalapas ) akan menentukan arah dan tujuan yang diharapkan dan didukung oleh seluruh jajaran petugas pemasyarakatan yang professional serta tidak kalah penting adalah partisipasi positif para warga binaan pemasyarakatan yang aktif dan produktif.
                    Melalui karya tulis ini dapat penulis sampaikan saran  yang perlu diperhatikan sebagai petugas pemasyarakatan :
1.      Perlu adanya peningkatan sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan  atau diklat teknis pemasyarakatan yang profesional
2.      Diupayakan kesejahteraan           petugas pemasyarakatan perlu di perhatikan.
3.      Membina hubungan kerja sama yang baik antara petugas pemasyarakatan dengan warga binaan serta masyarakat.
           
           

 




 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamis, 04 Maret 2010

Proses Pembinaan Narapidana dan Tahanan


PROSES PEMBINAAN
A.     PELAKSANAAN PEMBINAAN NARAPIDANA DI RUMAH TAHANAN NEGARA KELAS II.B  BANGIL 
                Pembinaan narapidana yang ditempatkan di  Rumah Tahanan Negara Kelas II.B Bangil diupayakan sedapat mungkin berjalan dengan baik sesuai dengan aturan yang berlaku, mengingat tugas Rutan sebagai tempat pelayanan dan perawatan tahanan. Agar pembinaan dapat berjalan secara efektif dan efisien maka petugas pemasyarakatan di Rumah Tahanan Negara Kelas II.B Bangil membuat program yang dapat diikuti semua narapidana dan selama ini pembinaan yang dilakukan sesuai dengan sarana dan fasilitas yang ada.
Pembinaan yang diberikan sesuai dengan sistem pemasyarakatan agar narapidana dididik dan dibimbing serta diarahkan kepada tujuan yang bermanfaat untuk dirinya, keluarganya dan bagi masyarakat setelah lepas menjalani pidananya.
Di  Rumah Tahanan Negara Kelas II.B Bangil pembinaan terhadap narapidana dilakukan sejak hari pertama narapidana masuk Rutan dengan sistim perkenalan dan pengenalan. Perkenalan artinya, memperkenalkan narapidana baru tersebut dengan petugas Rutan, aturan  dan lingkungannya. Sedangkan pengenalan, maksudnya  narapidana baru tersebut dikenalkan  dengan segala peraturan , tata tertib yang berlaku di  Rumah Tahanan Negara Kelas II.B Bangil serta dijelaskan secara lisan maupun tertulis tentang hak dan kewajiban, ketentuan-ketentuan mengenai perlakuan, cara memperoleh keterangan dan cara mengajukan pengaduan supaya dapat menyesuaikan diri dengan cara hidup di Rutan.
Dalam usaha memperlancar pembinaan di  Rumah Tahanan Negara Kelas II.B Bangil telah ditetapkan bahwa setiap narapidana penghuni baru akan dicatat/ didaftar dulu mengenai dirinya, vonisnya, barang-barang yang dibawa masuk dan keterangan lain yang dilakukan oleh bagian Registrasi. Setelah selesai dari bagian registrasi, narapidana tersebut diserahkan ke bagian keamanan untuk ditempatkan dikamar mapenaling, perlu untuk diperiksa keadaan kesehatannya oleh petugas agar dapat diketahui apakah narapidana tersebut mempunyai penyakit menular atau tidak. Setelah diketahui bahwa narapidana yang bersangkutan tidak mempunyai penyakit menular, maka selanjutnya ditempatkan pada blok pengawasan dan pengamatan. Ditempat ini petugas bimbingan kemasyarakatan mulai menjalankan perannya yaitu memantau narapidana yang bersangkutan untuk diketahui keadaan hidupnya terutama mengenai jiwanya, kepribadiannya, lingkungannya, pendidikannya, hobynya, pekerjaannya dan lain-lainnya. Hasil pengamatan ini akan dijadikan dasar penyusunan program pembinaan bagi narapidana yang bersangkutan.
Masa pengamatan tersebut diatas, pelaksanaannya tidak diberi batasan waktu, bisa cepat dan dapat juga lambat tergantung kepada lamanya masa pidana narapidana yang bersangkutan serta pada kesiapan, kesigapan, ketangkasan petugas dalam mendapatkan data yang diperlukan.
Selanjutnya ditentukan oleh Tim Pengamat Pemasyarakatan ujud dan bentuk pembinaan terhadap narapidana dalam kegiatan sehari-harinya, dengan mengingat keadaan pribadi dari masing-masing narapidana baik yang menyangku segi pendidikan umum, pendidikan agama, pembekalan kerja dan lain sebagainya.
Narapidana akan dibiasakan dalam hidup teratur, dengan adanya jadwal kegiatan sehari-hari yang telah disusun oleh pihak  Rutan Bangil. Berikut ini  jadwal kegiatan narapidana sehari-hari di  Rutan Bangil :
NO.
WAKTU
K E G I A T A N
1.
05.00 – 06.00
Bangun tidur, membersihkan tempat tidur
2.
06.00 – 07.00
Gerak badan/ senam, mandi
3.
07.00 – 08.00
Sarapan pagi
4.
08.00 – 11.00
Bekerja, Madrasah
5.
1100 – 11.45
I s t i r a h a t
6.
11.45 – 12.30
Sholat Dhuhur Berjamaah
7.
12.30 – 13.00
Makan siang
8.
13.00 – 14.00
Melanjutkan Pekerjaan yang belum selesai
9.
1430 – 15.30
Sholat Ashar Berjamaah
10.
15.30 – 16.30
Makan Sore
11.
16.30 – 17.00
Istirahat
12.
17.00 – 21.00
Masuk kamar dilanjutkan dengan kegiatan keagamaan di kamar masing-masing
13.
21.00 – 05.00
Istirahat dilanjutkan dengan Tidur

  Jadwal tersebut  dilakukan  setiap hari, untuk  hari  Jum’at  ada  beberapa  acara yang diubah, yaitu pagi hari narapidana melakukan kebersihan lingkungan dengan membersihkan kamar masing-masing, menjemur kasur/ tikar dan bantal.    Selanjutnya untuk meningkatkan pembinaan kepribadian dalam hal ini pembinaan kesadaran beragama untuk menghidupkan, mengembangkan dan mempertebal kepercayaan terhadap Tuhan, agar narapidana dapat menyadari akibat-akibat dari perbuatannya  yang salah. Karena penghuni di Rumah Tahanan Negara Kelas II.B Bangil mayoritas beragama Islam maka pembinaannya dilakukan di Pendopo  Rumah Tahanan Negara Kelas II.B Bangil dengan melakukan kegiatan sholat dan mendengarkan khutbah Jum’at secara bersama-sama. Untuk hari Rabu, pada jam 08.30 – 10.30 diisi ceramah agama sedangkan pengisi ceramah dari petugas Rutan dan penceramah dari luar Rutan. Untuk hari Minggu dan hari besar lainnya, para narapidana diliburkan dari kegiatan harian kecuali kegiatan keagamaan.

                 Dalam rangka pembinaan kesadaran berbangsa dan bernegara yang bertujuan untuk membentuk kesadaran pada diri narapidana agar menjadi warga negara yang baik, taat hukum dan berbakti pada bangsa dan negara, diberikan pengarahan tentang tertib hukum  bermasyarakat diharapkan narapidana nantinya hidup dimasyarakat taat akan hukum yang berlaku yang disampaikan oleh Kepala  Rumah Tahanan Negara Kelas II.B Bangil, Petugas Pemasyarakatan, Instansi terkait seperti Polri, Kejaksaan, Pengadilan dan lainnya. Sedangkan pembinaan untuk meningkatkan kemampuan intelektual  narapidana di  Rumah Tahanan Negara Kelas II.B Bangil, kegiatan yang dilakukan paling mudah dan paling murah yaitu dengan memberi kesempatan untuk memperoleh informasi dari luar, misalnya membaca koran/ majalah, nonton Televisi, mendengarkan radio dan sebagainya. Dalam rangka pembinaan bakat olah raga ringan bagi narapidana diberikan kesempatan pada sore hari, bermain catur, dan bulu tangkis.

Disamping itu sebagai upaya pembinaan narapidana dalam menghadapi masa bebasnya nanti, di Rumah Tahanan Negara Kelas II.B Bangil diberikan pembinaan kemandirian berupa kegiatan ketrampilan sesuai bakat atau ketrampilannya, seperti pembuatan keset dan pertukangan kayu/ meubel ( kursi, meja, dan lemari) yaitu kegiatan  ketrampilan yang pernah diberikan  pelatihan oleh Loka Latihan Kerja Industri Pasuruan  sebagai bekal narapidana menempuh hidup dimasa depan. Tetapi sementara ini kegiatan ketrampilan baik itu pembuatan keset maupun pertukangan kayu hasilnya hanya untuk melayani pesanan dari luar Rutan atau dari pegawai Rutan tidak memproduksi banyak karena keterbatasan permodalan.



 

B.  SARANA PENUNJANG PELAKSANAAN PEMBINAAN   

Agar pembinaan narapidana dapat dilaksanakan dengan lancar, tertib dan mencapai tujuan yang diharapkan, maka diperlukan sarana yang memadahi baik fisik maupun non fisik. Sebab sarana fisik berupa gedung/ bangunan juga sangat berpengaruh terhadap efektif dan tidaknya tujuan pembinaan.
Sedangkan di Rumah Tahanan Negara Kelas II.B Bangil dengan kondisi sarana fisik berupa bangunan yang ada memang sudah diupayakan dan diberdayagunakan seoptimal mungkin oleh petugas Rutan, dengan memberikan pembinaan-pembinaan yang tetap jalan sesuai dengan aturan yang berlaku walaupun ada kekurangan-kekurangan antara lain :
1.      Tata Ruang bangunan yang masih belum sesuai dengan kebutuhan pembinaan pemasyarakatan.
2.      Belum adanya pola bangunan yang baku.
3.      Kapasitas kamar hunian belum sesuai dengan tujuan pembinaan.
Melihat kondisi bangunan  Rumah Tahanan Negara Kelas II.B Bangil terutama bangunan blok hunian atau kamar hunian masih belum memadahi. Kapasitas kamar hunian yang ada sangat bervariasi antara 3, 5, 7, 9 dan 11 orang perkamar, tetapi pada kenyataannya isi setiap kamar bisa mencapai 5 sampai 19 orang penghuni, dengan  demikian kamar hunian  isinya selalu melebihi kapasitas. Selain kamar hunian yang sesak melebihi kapasitas, peralatan pembinaan/ bimbingan juga masih belum memadai baik jumlahnya maupun kualitasnya.
Sedangkan Sarana non fisik yang perlu mendapat perhatian berupa disiplin  yang harus dimiliki oleh semua petugas Rutan  meliputi keteladanan yang tunjukkan oleh petugas dalam meningkatkan mental bagi narapidana pemasyarakatan.

C.  PERAN PETUGAS PEMASYARAKATAN DALAM PEMBINAAN
 Petugas Pemasyarakatan merupakan motor penggerak terlaksananya pembinaan terhadap narapidana. Walaupun masih banyak kekurangannya, program  dan realisasi pelayanan tahanan dan pembinaan narapidana tetap dilaksanakan. Petugas pemasyarakatan dalam melaksanakan tugasnya mempunyai peranan sebagai orang tua, guru, teman, kakak dan sebagainya.  Petugas pemasyarakatan dituntut memiliki ketrampilan yang dapat membantu pelaksanaan tugasnya, paling tidak harus mengetahui dan mengerti benar tugas pokok yang diembannya dan dituntut untuk dapat menyelesaikan setiap permasalahan yang mungkin terjadi didalam Rutan sehingga dibutuhkan ketrampilan berkomunikasi yang baik dengan penghuni Rutan atau narapidana.
Menurunnya kualitas petugas pemasyarakatan selama ini disebabkan kurangnya pendidikan dan latihan teknis pemasyarakatan, karena pendidikan dan latihan selama ini hanya diikuti sebagian kecil petugas pemasyarakatan Rutan Bangil sehingga  pelaksanaan/ penerapan tugasnya hanya berdasarkan pada pengalaman yang ada tanpa didasari dengan ilmu dan ketrampilan yang cukup.
Mengingat petugas pemasyarakatan di Rumah Tahanan Negara Kelas II.B Bangil memiliki tugas ganda yaitu melayani dan merawat tahanan serta membina narapidana, maka petugas pemasyarakatan perlu memiliki kemampuan dan ketrampilan  yang cukup sehingga dapat melaksanakan tugasnya secara efektif.

D.  PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM MENUNJANG PEMBINAAN
 Agar pembinaan terhadap narapidana dapat berlangsung secara efektif dan efisien serta berkelanjutan, perlu melibatkan masyarakat karena setelah selesainya masa pembinaan, narapidana akan dikembalikan ke masyarakat. Masyarakat perlu dipersiapkan untuk dapat menerima kembali kehadiran narapidana, oleh karena itu masyarakat harus berpartisipasi didalam pembinaan bersama-sama dengan petugas pemasyarakatan. Pembinaan terhadap narapidana tidak semata-mata dibebankan kepada petugas pemasyarakatan, tetapi juga menjadi tugas dan tanggung jawab masyarakat.  Oleh karena itu petugas pemasyarakatan harus mampu mendorong keterlibatan masyarakat dalam tugas pembinaan.
Keluarga juga sebagai bagian terkecil dari masyarakat yang harus mendorong narapidana untuk menyadari kesalahannya dan bertobat, tanpa adanya dorongan dari keluarga narapidana tidak termotivasi untuk merubah sikap dan perilakunya. 

 E.  HAMBATAN-HAMBATAN SELAMA PELAKSANAAN PEMBINAAN
Setiap bentuk pembinaan dimungkinkan memiliki hambatan baik itu yang berskala besar atau kecil. Hambatan yang ada selama pelaksanaan pembinaan di Rumah Tahanan Negara Kelas II.B Bangil antara lain :
A.     Waktu dan bentuk pembinaan
       Waktu pelaksanaan pembinaan untuk narapidana masa pidana pendek relatif singkat, sehingga program pembinaan yang diberikan lebih banyak mengarah pada pembinaan agama dari pada pembinaan ketrampilan.
B.     Sumber daya manusia
Pendidikan dan latihan teknis pemasyarakatan selama ini dirasa kurang oleh petugas, sehingga petugas pemasyarakatan pada Rumah Tahanan Negara Kelas II.B Bangil dalam melakukan pembinaan sesuai kemampuan yang ada.  Selain  sumber daya petugas yang masih kurang, juga sumberdaya manusia narapidana yang rendah, karena hampir 70 % narapidana lulusan Sekolah Dasar ( SD ) yang tentunya akan mempengaruhi efektifitas pembinaan.
C.    Sarana Bangunan dan penempatan narapidana bersama tahanan.Bangunan yang ada masih belum sesuai untuk menunjang proses pembinaan yang diinginkan, fasilitas yang ada juga belum memadai seperti minimnya sarana olah raga. Penempatan narapidana dan tahanan pada satu lokasi menimbulkan adanya suatu kecemburuan karena sesuai dengan statusnya perlakuan terhadap tahanan dan narapidana jauh berbeda.
D.    Isi kamar penghunian  yang selalu melebihi kapasitas.
     Dengan isi kamar penghunian yang selalu melebihi kapasitas mengakibatkan konsentrasi petugas lebih pada bidang keamanan   sehingga proses pembinaan terganggu.